بسم الله الرحمن الرحيم

Sanghyang Heuleut, destinasi wisata ini kini tengah naik daun, cukup banyak wisatawan yang mulai mengunjungi obyek wisata yang terletak di Bandung Barat ini. Berhubung masih baru, maka obyek wisata ini memang belum dikelola oleh pemerintah, jadi masih dikelola oleh masyarakat sekitar. Sanghyang Heuleut ini merupakan danau kecil yang terletak di tengah himpitan bebatuan dan hutan-hutan.

Untuk pertama, kalau penasaran bisa cek di instagram dengan hashtag #SanghyangHeuleut, maka akan banyak foto-foto mengenai tempat ini. Begitu pun dengan informasi dan beberapa review yang bisa dengan mudah di-googling. Nah namun menurut pengalaman saya saat googling mengenai tempat ini, ada beberapa hal yang tidak dimuat, oleh karenanya saya coba untuk membuat review saya sendiri mengenai tempat ini. Kebetulan tanggal 5 Januari kemarin baru mengunjungi obyek wisata yang cukup akan hits ini. Yuk langsung saja simak review sayang mengenai Sanghyang Heuleut.



***

Sanghyang Heuleut terletak di kawasan PLTA Saguling, Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, letaknya sedikit lagi memasuki wilayah Kabupaten Cianjur. Jaraknya sekitar 50 km dari pusat kota Bandung dengan waktu tempuh sekitar 1,5 jam perjalanan hingga sampai kawasan PLTA Saguling. Sangat disarankan untuk menggunakan kendaraan pribadi, baik motor atau mobil, karena tidak ada kendaraan umum dari gerbang wilayah PLTA Saguling menuju ke lokasi. Untuk rutenya, bila Anda berangkat dari Bandung, bila menggunakan motor maka langsung saja menuju arah Padalarang (bisa lewat Soekarno-Hatta atau Jalan Gunung Batu dekat Pasteur), atau jika menggunakan mobil maka bisa lewat tol dan keluar di Padalarang. Selepas sampai Padalarang atau kalau saya patokannya adalah Kota Baru Parahyangan, Padalarang, maka terus saja lurus ikuti jalan hingga sampai pertigaan menuju PLTA Saguling, patokannya ada penunjuk jalan dan gerbang besar bertuliskan PLTA Saguling. Nah dari sini masuk saja terus hingga sampai portal, di sana ada pos satpam, tinggal bilang saja mau ke Sanghyang Heuleut. Dari sana tujulah arah menuju Power House (ada penunjuknya).

(Info: Sebelum menuju Sanghyang Heuleut, ada objek wisata lain yang akan dilalui yakni Sanghyang Tikoro, yang merupakan gua -yang katanya- misterius dan dipercaya sebagai tempat bocornya Danau Bandung Purba.)

Dua pipa besar, ingat saat sampai sini, maka sebrangi dua pipa ini lalu lanjutkan perjalanan, jangan naik ke arah atas.

Nah bila sudah dekat maka nanti akan terlihat dua pipa besar, teruskan saja perjalanan ke atas dan nanti akan ada warung di sana. Nah sampai di sini ada dua pilihan jalur menuju Sanghyang Heuleut (nah ini kayaknya gak ditulis oleh review-review lain mengenai tempat ini), jalur pertama atau jalur yang paling sering dilewati adalah dengan parkir di warung tadi. Di warung ini pengunjung biasanya ditawari oleh warga di sana, apakah akan dipandu oleh mereka dengan membayar Rp 15.000 (bisa ditawar) atau tidak. Kalau pun tidak ingin dipandu, mereka lalu mengeluarkan buku dan meminta sumbangan "seikhlasnya" dari pengunjung.

Untuk jalur pertama ini, pengunjung berjalan menyebrangi dua pipa ini dan lanjut berjalan, untuk perjalanan jalan kaki melalui jalur ini -katanya- memakan waktu 1-2 jam. Jika melewati jalur ini maka akan melewati obyek wisata Sanghyang Poek, yang merupakan gua purba dengan jarak puluhan meter. Nah berhubung saya tidak melewati jalur ini, saya tidak tahu lagi ke sananya seperti apa. Lalu saya lewat mana? Nah ada jalur kedua yang bisa ditempuh.

Jalur kedua ini berada di atas jalur pertama, yakni dari warung pertama tadi terus lurus saja ke atas beberapa kilometer hingga nanti selepas tanjakan ada warung di sebelah kanan bertuliskan "Sanghyang Heuleut + Parkir". Nah berhenti saja di sana dan parkir di sana. Di sini, pengunjung diminta bayaran Rp 5.000 per orang dan Rp 10.000 untuk parkir motor (entah kalau mobil berapa). Tapi ini pun masih bisa ditawar (terlebih kalau Anda ke sana dengan rombongan beberapa motor), saya dan kawan-kawan saya saat ke sana berjumlah sembilan orang dengan lima motor, harusnya membayar Rp 95.000, tapi bisa ditawar hingga Rp 50.000 saja. Di sini juga Anda bisa membeli minuman dan makanan untuk di lokasi wisata nanti.

Perjalanan melalui jalur kedua

Nah dari sini, Anda berjalan kaki melalui jalan setapak yang telah dibuat dengan waktu tempuh sekitar 40 menit sampai 1 jam. Sangat disarankan untuk menggunakan sendal atau sepatu gunung karena tanah yang cukup licin di beberapa tempat. Karena jalur kedua ini berada di atas, maka perjalanan cendurung melalui jalan setapak yang turun. Setelah melalui jalan ini maka Anda akan menemukan Sanghyang Heuleut.

Selepas sampai di Sanghyang Heuleut, Anda bisa ngojay alias berenang di sana. Anda juga bisa mencoba sensasi loncat ke air dari batu berketinggian tiga hingga delapan meter. Jangan khawatir tenggelam, karena di sana ada tim dengan pelampung yang siap menyelematkan Anda jika tenggelam. Di sini Anda pun bisa menyewa pelampung seharga Rp 20.000. Selain itu, di sini pun ada kios-kios yang menjual makanan dan minuman, tentunya dengan harga yang lebih mahal dari biasanya. Bagi Anda yang muslim, jangan takut tidak menemukan tempat untuk shalat, karena di Sanghyang Heuleut ada kios yang menyediakan tempat kosong untuk shalat (tentunya tidak dikenakan biaya penyewaan :D). Satu lagi, di sini juga anda bisa bertemu dengan Abah Eno, ia adalah warga setempat yang berjaga di sana sekaligus menjajakan makanan-minuman di kiosnya. Abah Eno biasanya ada di sana saat Sabtu-Minggu, tapi terkadang di hari-hari biasa pun ia datang ke sana. Abah Eno ini sangat ramah, berkenalanlah dengan baik dengannya, nanti ia bisa sangat membantu kita.

Oh ya, bila ingin menjumpai warna air Sanghyang Heuleut yang berwarna  biru -seperti yang bisa anda temukan kalau googling gambar Sanghyang Heuleut-, maka datanglah ke sini saat musim kemarau. Jika datang pada saat musim hujan, selain jalan lebih licin, airnya pun berwarna hijau-kecoklatan, namun tetap menyenangkan untuk berada di sana.

Asal-Usul Sanghyang Heuleut
Banyak (coba googling) yang mengatakan bahwa Sanghyang berarti "sesuatu yang dianggap suci", dan Heuelut berarti "jeda antara dua waktu." Nah, saat di sana saya coba bertanya kepada Abah Eno mengenai tempat ini, ia berkata (dan ini dari cerita buyutnya yang juga telah akrab dengan tempat ini) bahwa sebelum adanya waduk atau bendungan-bendungan, maka banyak ikan yang mengikuti sungai-sungai, nah saat sampai ke danau Sanghyang Heuleut, ikan-ikan ini tidak sanggup lagi untuk terus naik, hingga akhirnya berhenti di sini. Mitosnya, masih menurut Abah Eno, Sanghyang  Heuleut dan beberapa tempat lain seperti Sanghyang Tikoro dan Sanghyang Poek biasa dipakai orang untuk ngelmu  (mencari ilmu, kesaktian) di sana, dan Sanghyang Heuleut ini adalah tempat ketujuh yang disinggahi para pengelmu ini, tapi yaa ini mitosnya.

Well, Secara keseluruhan, perjalanan 1,5 jam dengan motor ditambah 1 jam perjalanan jalan kaki terbayar dengan kepuasan wisata Sanghyang Heuelut. Really worth it!

Oh ya, ada beberapa tips bagi anda yang akan mengunjungi Sanghyang Heuleut:
  • Pastikan kondisi fisik anda dalam keadaan prima, karena anda akan berjalan sekitar 1-1,5 jam hingga sampai ke Sanghyang Heuleut.
  • Berhati-hatilah saat melakukan perjalanan jalan kaki, jalan terkadang cukup licin.
  • Bila akan ke Sanghyang Heuleut saat musim hujan, maka pergilah pagi hari dan pulang siangnya, karena sore hari seringkali hujan, ini bisa memberatkan dan membahayakan anda, karena jalan akan semakin licin dan bisa jadi anda terpeleset. Bawa juga jas hujan bila perlu.
  • Untuk melihat warna air yang berwarna biru muda, datanglah ke Sanghyang Heuleut pada musim kemarau, karena saat musim hujan air berwarna hijau kecoklatan akibat material tanah lumpur yang terbawa air hujan.
  • Siapkanlah bekal minum dan makan (juga makan berat bila perlu) yang cukup, karena bagi anda yang tidak terbiasa jalan jauh dengan kondisi medan tanah yang naik-turun, tentunya perlu asupan minum yang cukup. Selain itu, harga makanan dan minuman di lokasi Sanghyang Heuleut lebih mahal dari harga normal.
  • Gunakanlah sendal atau sepatu gunung agar lebih nyaman saat berjalan kaki, sangat tidak disarankan menggunakan sepatu kets atau sendal jepit :D.
  • Siapkan kamera dan baterai yang cukup, karena tempatnya cukup pas untuk foto-foto.
  • Disarankan pergi dengan berkelompok, setidaknya untuk menjaga keamanan barang-barang bawaan anda.
  • Jangan buang sampah sembarangan, karena tentunya akan mengotori lingkungan serta keindahan Sanghyang Heuleut.
  • Jangan ALAY.

Oke, sekian review saya mengenai obyek wisata Sanghyang Heuleut ini. Semoga bisa memberikan informasi dan tips yang berguna bagi anda semua. Terima kasiiih. :D

Post a Comment

Silakan berkomentar, gunakanlah bahasa yang santun dan sopan serta sesuai dengan tulisan di atas

Semoga Bermanfaat

{picture#https://scontent-sit4-1.cdninstagram.com/t51.2885-19/s150x150/17267722_1245948538787640_8789077931864358912_a.jpg} Admin Account Semoga Bermanfaat {facebook#http://facebook.com/semoga.bermanfaat} {twitter#http://twitter.com/sbermanfaat} {google#https://plus.google.com/u/0/116784461566972914884/} {pinterest#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {youtube#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {instagram#http://instagram.com/semogabermanfaat.ig}

Firman Maulana

{picture#https://3.bp.blogspot.com/-U1aM9n96h0Y/WM1XmBwF9aI/AAAAAAAAKXo/bUbTa07BrSsGHy7gIR5IWimOfQeiId9fgCLcB/s200/Firman_Founder.png} Founder & Chief Editor Semoga Bermanfaat. Mempunyai kesukaan dalam hal membaca, menulis, lari, dan sepakbola. {facebook#http://facebook.com/maulana.firman} {twitter#http://twitter.com/doausahaoptimis} {google#https://plus.google.com/112678098885074151099/} {pinterest#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {youtube#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {instagram#http://instagram.com/firmaulana}
Powered by Blogger.