Tjipto Mangoenkoesoemo

 Ø¨Ø³Ù… الله الرحمن الرحيم

Banyak orang yang bisa berjuang dan menyelesaikan masalah dalam kondisi lapang. Tetapi dalam kondisi sulit? Belum tentu. Tapi sosok satu ini mampu melakukan itu. Demi mengabdi pada rakyat, ia memilih larut dalam masalah. Benturkan diri pada kesulitan.

Perkenalkan Pak Tjipto Mangoenkoesoemo yang berkali-kali dibuang, dipenjarakan, dan diasingkan. Rumah tabib sederhananya dimatikan. Hidupnya dimelaratkan. Uniknya, saat ingin dibuang, beliau lambaikan senyum dan menyempatkan diri menyampaikan salam, "Sampai jumpa".

Kisahnya menarik. Tahun 1886 di Ambarawa, Tjipto dilahirkan dalam keluarga yang "berada". Saat
remaja ia hidup dalam iklim kolonial.

dr. Tjipto Mangoenkoesoemo

Hidup dalam era Politik Etis membuat Tjipto muda gerah. Belanda menciptakan topeng baru "balas budi" untuk mencari tenaga kerja murah. Ketimbang menjadi Pangreh Praja, Tjipto muda mendesak sang ayah untuk menyekolahkannya di STOVIA (School tot Opleiding van Indsiche Arsten / Sekolah Pendidikan Dokter Hindia). Lulus dari STOVIA ia ditugaskan ke Demak, Jawa Tengah.

Saat menjadi dokter pemerintah di Demak, justru di saat yang sama dr. Tjipto aktif menulis di De Express, berisi kritikan dan keburukan-keburukan Belanda. Karena dirasa mengusik Belanda, dr. Tjipto diberhentikan sebagai dokter pemerintah. Tak lagi diupah oleh Belanda, membuat beliau semakin intens berjuang.

Tahun 1912, bersama Douwes Dekker dan R.M. Soewardi Soerjaningrat (Ki Hajar Dewantara) beliau mendirikan Indische Partij, yang didirkan demi Indonesia merdeka. Menajamkan perjuangan, dr. Tjipto mendirikan komite Bumi Putera yang juga khusus memprotes peringatan 100 tahun kemerdekaan Belanda dari Perancis.

Tahun 1913, karna aktvitasnya di Bumi Putera, dr. Tjipto dibuang ke Belanda. Tak sampai setahun, beliau dikembalikan ke Indonesia karena sakit asma. Sekembali dari Belanda karena asma yang dideritanya, justru dr. Tjipto "makin menjadi". Beliau malah melanjutkan perjuangan melalui Volksraad (secara harfiah berarti Dewan Rakyat, semacam Dewan Perwakilan Rakyat Hindia Belanda). Di Volksraad, tak henti perjuangan dr. Tjipto. Beliau terus mengkritik Belanda dan selalu membela kepentingan rakyat. Beliau sungguh menjadi dokter pejuang.

Sekali lagi, karena kegiatannya di Volksraad, dr. Tjipto dihukum Belanda. Beliau dipaksa untuk meninggalkan Solo -tempat tinggalnya saat itu. Praktik dokternya ditutup. Beliau diasingkan ke Bandung dan menjadi tahanan kota: tak boleh keluar Bandung tanpa izin pemerintah Belanda.

***

Berapa sering dalam hidup kita merasa tertekan? lalu berjuang, lalu kalah, tak mampu bangkit lagi. Seakan tak ada orang yang punya beban seberat kita. Mari belajar dari dr.Tjipto. Berapa kali hidupnya tertekan. Ia bangkit. Lalu kalah. Bangkit lagi. Lalu kalah lagi. Keperihan telah menjadi daging.


[tab] [content title="Tentang Penulis"] Dea Tantyo
Penulis buku Leiden dan Extraordinary, kerap pula menjadi pembicara dalam tema-tema kepemimpinan. [/content] [content title="Tulisan Lain Dari Dea Tantyo"]
[/content] [/tab]

No comments:

Silakan berkomentar, gunakanlah bahasa yang santun dan sopan serta sesuai dengan tulisan di atas