بسم الله الرحمن الرحيم

Dialah yang menjadikan bumi ini mudah bagimu, maka berjalanlah dari segala penjurunya dan makanlah dari rizki-Nya. Dan hanya kepadanyalah kamu akan dibangkitkan. (QS: 67: 15)

Grace segera menyiapkan ranselnya. Jam 7 pagi itu ia harus take off dari terminal 3 Soekarno Hatta. Tiga tiket ditangannya menyertakan Lombok sebagai tempat yang ia akan kunjungi. Langit pagi itu cerah, angin bersepoi menyapa pagi dengan sapaan matahari yang menyambut datangnya pagi. Lombok dengan segala keindahan pantainya, menyimpan sebuah cerita kenangan akan indahnya ciptaan sang Maha Kuasa. Sambil menunggu boarding, Grace membuka mushaf Qurannya. Diingatnya kembali tentang ayat-ayat tentang perjalanan, dalam benaknya ia berdoa. “Yaa Rabb jadikan perjalananku barakah, jadikan seperjalananku mendapatkan cerita hikmah yang jadi catatan amalku menuju surga.


sumber: www.kliksangatta.com/

Kesempurnaan alam adalah maha karya agung dari sang pencipta. Lombok adalah salah satu dari keindahan panorama yang menghadirkan jutaan manusia untuk ingin lebih dekat menatapnya. Titah Tuhan dalam Alquran memerintahkan manusia untuk berjalan menyisirinya, tak hanya sekedar hidup tapi juga memaknai kebesaran ciptaan-Nya. Jika perlu menjelajahi bumi, bukan sekedar menikmati pantai-pantai Lombok yang indah, berdiving ria pada kejernihan Bunaken, atau mengukur setiap inci Tembok Cina sambil ber-selfie. Tapi lebih daripada itu kita mensyukuri keajaiban Tuhannya dengan segala penciptaanya dan manusia sebagai pendoronya.

Grace lagi-lagi tak kuasa berseri menikmati indahnya pantai Lombok. Ini trip pertamanya bersama keluarga ke Lombok. Ia tak ingin mengajak ayah dan bundanya untuk bersusah ria sebagaimana kebiasaan backpaker mahasiswi koas kedokteran gigi unpad itu menjelajahi sudut-sudut destinasi indah Indonesia. Baginya Lombok adalah pilihan tepat. Karena Lombok selain punya panorama indah, juga menyajikan kenyamanan dirinya sebagai pemeluk Muslim yang taat. Ya, wisata tak sekedar refreshing baginya dalam menyeleraskan jiwa akan pesona namun juga makin mendekatkan dirinya pada Rabbnya.

Parisiwata adalah sektor menakjubkan bagi Indonesia. Dengan anugrah alam yang luar biasa, negeri ini bak surga bagi para pelancong dunia. Menariknya kita perlu sadar bahwa lebih dari 1,6 miliar orang di dunia ini memeluk agama Islam. Jumlah tersebut adalah potensi dalam skala hitung menggiurkan dalam menghadirkan pangsa pasar industri pariwisata. Sahabat sekalian, menurut data lembaga Dinar Standard, wisatawan muslim dapat menghabiskan sekitar 137 miliar US$ (Rp. 1,8 kuadraliun) dalam perjalanan wisatanya, itu sudah termasuk untuk ibadah umroh dan haji, pada 2012. Dan diperkirakan nilainya dapat meningkat hingga 180 miliar US$ (Rp. 2,3 kuadraliun) pada 2020.

Potensi industri wisata menjadi komoditi sektor yang bagus bagi Indonesia ke depan. Kehadiran Raja Salman ke Indonesia dan Bali medio Maret 2017 memberikan pesan bahwa Bali dan Indonesia dengan pesona alamnya menawarkan suatu hal yang unik bagi pasar muslim dunia. Namun yang perlu kita garis bawahi, wisatawan muslim punya karakteristik yang unik, dibandingkan wisatawan lain. Mereka memerlukan jaminan halal, termasuk saat melakukan perjalanan wisata. Selama ini paradigma masyarakat kita masih menempatkan kata halal selalu diidentifikasi pada makanan. Padahal secara harfiah dalam padanan bahasa Arab, halal berarti “boleh dilakukan oleh seorang Muslim”. Jadi padanan halal, tak berhenti pada makanan saja tetapi segala sesuatu kondisi yang diperbolehkan oleh syariat. Karena bagi seorang muslim, Islam tak hanya agama tetapi juga minhajul hayat (tata cara hidup). Sebab itu dalam perjalanan wisata mereka, muslim akan memperhatikan sepenuhnya perjalanan yang menunjang perjalanan mereka dan keterjaminan halal.


sumber: www.kliksangatta.com/



Halal Tourism mulai berkembang sebagai sebuah potensi industri sekitar awal 2000-an. Saat itu masyarakat lebih mengenal dengan sebutan wisata religi. Saat itu dunia wisata disadarkan bahwa wisatawan Muslim memiliki pengaruh besar dalam industri pariwisata. Selang 15 tahun kemudian istilah wisata halal mengemuka menjadi perbincangan hangat dalam pelaku bisnis wisata. Dengan potensi jumlah pemeluk agama yang besar, potensi perputaran uang selama wisata akan berkontribusi pada banyak sektor, untuk pajak daerah maupun devisa negara. Belum lagi perputaran yang menggerakkan roda perekonomian yang terkait langsung. Sasaran lain tentu saja akomodasi, transportasi, serta fasilitas penunjang wisata halal. Fenomena wisata halal semakin naik pamor dan menjadi kekuatan baru pariwisata nasional. Salah satu target Kementerian Pariwisata agar meningkatkan kunjungan wisatawan menjadi 20 juta pengunjung pada 2019 salah satunya lewat tren wisata halal. Dari target 20 juta wisatawan tersebut, 5 jutanya diharapkan dari wisatawan muslim. Untuk itu pemerintah memoles sektor pariwisata sesuai standar internasional, mulai dari akomodasi, transportasi, makanan, dan destinasi yang ramah Muslim. Hasilnya di 2015, Lombok terpilih sebagai World’s Halal Destination dan 2016 Sumatera Barat terpilih sebaga WorDl’s Halal Destination. Dampaknya wisata halal di Lombok meningkat tajam. Okupansinya selalu mencapai 80 persen. Juga mulai dibuka jalur penerbangan langsung menuju Lombok. Ini yang diharapkan pemerintah menular kedaerah lain.

Sahabat sekalian, potensi Indonesia untuk menarik kunjungan wisatawan muslim sangalaht besar. Selain mayoritas penduduknya beragama Islam, sangat banyak destinasi wisata dan budaya yang menarik minat mereka. Namun kita masih tertinggal dibandingkan dengan negara tetangga. Dilihat dari perputaran wisatawan asal Timur Tengah, sebanyak 8 juta diantaranya mengunjungi Asia setiap tahun. Indonesia hanya kebagian 1,8 juta kunjungan. Beda dengan Malaysia 6 juta kunjungan), Singapura 4 juta kunjungan. Kedua negara tersebut sangat konsern terhadap pengembangan pariwisata dan menyiapkan berbagai infratruktur penunjang yang didukung oleh pemerintah. Pemerintah Malaysia dan Singapura cukup mudah memberikan kemudahan pada pelaku bisnis pariwisata halal.

Perlu usaha bagi Indonesia agar wisata halal dikembangkan secara baik. Pemerintah baik dari tingkat pusat dan daerah harus menjadikan pariwisata sebagai sarana komoditi yang menggiurkan bagi peningkatan sektor devisa dan penggerak sektor ekonomi. Hanya saja, produk halal belum menjadi gaya hidup mayoritas penduduk Indonesia. Mungkin ada anggapan di kita bisa jadi lebih toleran, Malaysia mungkin lebih ketat. Namun wisatawan muslim asing yang hadir pada sebuah destinasi umumnya tidak mau sembarangan menginap di hotel atau datang ke restaurant yang diragukan kehalalannya.

Membaca pasar tersebut, Bandung sebagai salah satu daerah dengan pertumbuhan wisatawan yang meningkat mulai membaca geliat pertumbuhan wisata hahal. Salah satunya dengan mulai hadirnya hotel syariah di beberapa titik kota Bandung. Hotel dengan konsep ini mencoba menawarkan nilai-nilai syariah dalam pengoperasiannya. Kriteria hotel syariah ini tentu perlu pengawasan dan penilaian dari lembaga apakah masuk dalam kriteria halal atau tidak. Untuk makanan dan tempat akan diawasi oleh LPPOM MUI dan standarisasi hotel akan ditentukan oleh DSN (Dewan Syariat Nasional).

Secara umum perlu kita ketahui ada 2 kriteria bagi hotel syariah, yakni hilal 1 yakni standarasasi minimum dalam penerapan hotel syariah. Minimal kebutuhan traveller muslim bisa terpenuhi, misalnya ada bar tetapi terpisah dan minuman beralkohol hanya dapat diminum ditempat tertentu. Ada tempat hiburan yang terpisah, dsb. Serta kriteria hilal 2 yang benar-benar menerapkan standarisasi syariah. Berbeda dengan konsep hotel konvensional, hotel syariah tentunya tidak memberikan izin kepada pasangan yang bukan muhrim kecuali memesan kamar yang berbeda. Hotel pun tidak menjual minuman beralkohol. Kenyamanan beribadah juga di hotel syariah dijaga agar wisatawan menjadi lebih nyaman. Salah satunya adalah dengan menyedikan perlengkapan ibadah yang lengkap dan tersedia dikamar, juga tersedianya waktu pengingat adzan didalam kamar, atau program tahajud call, atau juga melibatkan travel agent dalam pelaksanaan tour wisata hikmah dan halal ke beberapa tempat kota Bandung.

Wisata halal pada dasarnya bukan kemudian mengubah destinasi wisata tapi memberikan pilihan bagi peminatnya agar mengakomodir nilai-nilai keyakinan mereka. Hasil penelitian EHTC di 2016 menunjukkan ada 21 destinasi pariwisata halal tersebar di Kota Bandung. Destinasi yang memiliki nilai akir yang paling tinggi baik dari segi produk maupun layanan, dukungan pemerintah, infrastruktur, hingga sumber daya manusia adalah wisata pendidikan dan rohani setia budi (Daurut Tauhid). Daya tarik untuk wisata halal lain di Bandung ada di wisata seni di Institut Seni Budaya Bandung (ISBI), Saung Mang Udjo, TSM, Kampoeng Bakery Pasteur, Wisata belanja, wisata alam terutama kawasan Bandung Utara.

Penelitian menunjukkan bahwa produk dan layanan cukup lengkap dan variatif tetapi kualitas kurang memadai. Jumlah akomodasi dan tempat makan yang tersertifikasi halal masih belum mencukupi permintaan pasar, dan yang paling penting adalah dukungan pemerintah yang belum tertuang dalam kebijakan yang progresif.

Wisata halal bukan berarti menggerus atau membenturkan dengan wisata pada umumnya. Namun, tempat wisata tetap harus memberikan keindahan akan panorama sebuah destinasi, dan juga kenyamanan bagi para wisatawan. Fasilitas dalam pelayanan yang memuaskan wisatawan ini yang kemudian harus diperhatikan, agar jika sektor wisatawan adalah muslim maka hak-hak kemuslimannya masih bisa terjaga melalui pelayanan fasilitas tempat shalat yang memadai, pemilihan jenis makanan dan minuman yang memberikan dampak bahwa apa yang mereka dapatkan terjamin berdasarkan struktur keyakinannya. Sebagaimana diawal tadi kita Grace berdoa soal harapannya,agar setiap perjalanannya menjadi berkah agar setiap langkah kaki seorang muslim menjadi semakin mendekatkan pada-Nya. 



[tab] [content title="Tentang Penulis"] Nugroho Adinegoro
Penulis adalah Founder Bandung Strategic Leadership Forum, Chief Operation Officer Semoga Bermanfaat, Penyuka Traveling [/content] [content title="Tulisan Lain Dari Nugroho Adinegoro"]
[/content] [/tab]

Post a Comment

Silakan berkomentar, gunakanlah bahasa yang santun dan sopan serta sesuai dengan tulisan di atas

Semoga Bermanfaat

{picture#https://scontent-sit4-1.cdninstagram.com/t51.2885-19/s150x150/17267722_1245948538787640_8789077931864358912_a.jpg} Admin Account Semoga Bermanfaat {facebook#http://facebook.com/semoga.bermanfaat} {twitter#http://twitter.com/sbermanfaat} {google#https://plus.google.com/u/0/116784461566972914884/} {pinterest#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {youtube#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {instagram#http://instagram.com/semogabermanfaat.ig}

Firman Maulana

{picture#https://3.bp.blogspot.com/-U1aM9n96h0Y/WM1XmBwF9aI/AAAAAAAAKXo/bUbTa07BrSsGHy7gIR5IWimOfQeiId9fgCLcB/s200/Firman_Founder.png} Founder & Chief Editor Semoga Bermanfaat. Mempunyai kesukaan dalam hal membaca, menulis, lari, dan sepakbola. {facebook#http://facebook.com/maulana.firman} {twitter#http://twitter.com/doausahaoptimis} {google#https://plus.google.com/112678098885074151099/} {pinterest#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {youtube#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {instagram#http://instagram.com/firmaulana}
Powered by Blogger.